Sabtu, 06 Juni 2015



Pelajaran Kehidupan di Luar Sekolah
“Kakaak, ayo belajar biar pintar!”
Waktu kecil dulu kita selalu didorong agar berprestasi di sekolah. Kita ‘sah’ disebut pintar jika mendapat angka 10 saat ulangan, rajin mencatat pelajaran, punya raport bagus, dan mematuhi guru. Anak-anak yang tidak memenuhi kriteria di atas akan rawan dicap malas, nakal, atau bodoh.
Padahal, tak semua anak cocok dengan lingkungan sekolah. Tidak menjadi yang terbaik di bidang akademik pun bukan berarti kamu bodoh, karena sekolah tak mengajarkan semua hal penting dalam hidup. Memang, matematika, bahasa Inggris, ilmu alam, kedisiplinan dan berbagai pelajaran fundamental lainnya kita dapatkan di sekolah. Tapi tempat itu tidak mengajarkan pada kita hal-hal di bawah ini, yang tak kalah pentingnya untuk membentuk hidup yang berguna.
Hanya dengan benar-benar hidup dan menimba pengalaman di luar sekolahlah, kita bisa menguasai hal-hal ini:
Kemampuan bersosialisasi juga hanya bisa kamu dapatkan di luar kelas. Karena di dalam kelas, kamu bahkan tak boleh mengobrol jika tak ingin dibilang nakal
Kamu pasti senang, dong, ketika mengatur isi profil di Facebook? Menulis apa hobi kamu, dan apa saja kesukaanmu. Itu membuktikan bahwa hidup mengajarkanmu untuk membentuk identitasmu sendiri untuk menyiapkan dirimu agar mampu untuk bersosialisasi. Di manapun kamu bersekolah, kamu tetap kamu, yang memiliki segudang keunikan yang mungkin nggak dimiliki orang lain.
Namun, kemampuan sosialisasi ini hanya bisa kamu miliki ketika kamu sudah terlatih mengobrol bersama orang lain. Kemampuan ini juga hanya bisa berkembang ketika kamu peka pada perasaan orang lain, pada apa yang mereka suka dan tak suka. Bagaimana mungkin semua hal ini bisa kamu asah ketika kamu hanya berkutat di ruang kelas saja? Di dalam ruangan itu, mengucapkan sepatah-dua patah kata saja kamu tak bisa…

Hidup yang seimbang pun tak ada pelajarannya. Kita harus berjuang menemukan formula yang tepat seiring dewasa

Sekolah mengajarkanmu untuk bekerja keras untuk memperoleh nilai yang baik, namun itu tidak sepenuhnya mengajarkanmu kemampuan untuk menyeimbangkan kemampuanmu yang sebenarnya supaya kamu mencapai kebaikan di segala aspek. Membangun quality time bersama orang-orang tersayang, sambil merintis usaha, dan sambil memastikan bahwa tetap ada waktu senggang untuk sendirian bukanlah hal yang mudah. Mencapai keseimbangan diperlukan untuk memiliki hidup yang membahagiakan. Dan kamu hanya bisa mempelajari cara mencapai keseimbangan seiring kamu dewasa, bukan dengan diam di dalam kelas sana.


Sementara kemampuan belajar dari kegagalan hanya bisa kamu asah setelah berkali-kali gagal

Belajar dari kegagalan bukanlah tujuan utama sekolah. Sekolah akan mengajarkanmu bagaimana untuk berhasil duduk di peringkat pertama. Pelajaran menarik untuk diri sendiri, karena kini kita menyadari bahwa jika semua dipandang dari satu sisi saja, semua siswa pasti akan gagal ujian kelulusan. Namun tidak ada kegagalan yang sia-sia jika kita belajar untuk menerima dan memaknainya. Mempelajari apa yang salah dan mengapa sesuatu tidak berjalan seperti seharusnya dapat membantumu untuk menentukan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya sehingga hal tersebut tidak terjadi lagi sehingga ke depannya kamu akan menjadi pribadi yang lebih kuat.

Kemampuan yang terpenting dan tak ada pelajarannya di sekolah, adalah kemampuan untuk memaafkan

Memang susah untuk memaafkan orang yang telah membuatmu bersedih. Dan bahkan lebih sulit bagimu untuk benar-benar memaafkannya daripada sekadar berpura-pura di depannya. Belajar bagaimana memaafkan hal-hal yang membuatmu bersedih dan move on adalah kemampuan yang jelas tidak kamu dapatkan di bangku sekolah karena membutuhkan kesabaran dan pengertian.