Pelajaran
Kehidupan di Luar Sekolah
“Kakaak, ayo belajar biar pintar!”
Waktu kecil dulu kita selalu didorong agar
berprestasi di sekolah. Kita ‘sah’ disebut pintar jika mendapat angka 10
saat ulangan, rajin mencatat pelajaran, punya raport bagus, dan
mematuhi guru. Anak-anak yang tidak memenuhi kriteria di atas akan rawan dicap
malas, nakal, atau bodoh.
Padahal, tak semua anak cocok dengan lingkungan
sekolah. Tidak menjadi yang terbaik di bidang akademik pun bukan berarti kamu
bodoh, karena sekolah tak mengajarkan semua hal penting dalam hidup.
Memang, matematika, bahasa Inggris, ilmu alam, kedisiplinan dan berbagai
pelajaran fundamental lainnya kita dapatkan di sekolah. Tapi tempat itu
tidak mengajarkan pada kita hal-hal di bawah ini, yang tak kalah pentingnya
untuk membentuk hidup yang berguna.
Hanya dengan benar-benar hidup dan menimba
pengalaman di luar sekolahlah, kita bisa menguasai hal-hal ini:
Kemampuan bersosialisasi juga hanya bisa kamu dapatkan di
luar kelas. Karena di dalam kelas, kamu bahkan tak boleh mengobrol jika
tak ingin dibilang nakal
Kamu pasti senang, dong, ketika mengatur
isi profil di Facebook? Menulis apa hobi kamu, dan apa saja
kesukaanmu. Itu membuktikan bahwa hidup mengajarkanmu untuk membentuk
identitasmu sendiri untuk menyiapkan dirimu agar mampu untuk bersosialisasi. Di
manapun kamu bersekolah, kamu tetap kamu, yang memiliki segudang keunikan yang
mungkin nggak dimiliki orang lain.
Namun, kemampuan sosialisasi ini hanya bisa kamu
miliki ketika kamu sudah terlatih mengobrol bersama orang lain. Kemampuan ini
juga hanya bisa berkembang ketika kamu peka pada perasaan orang lain, pada
apa yang mereka suka dan tak suka. Bagaimana mungkin semua hal ini bisa kamu
asah ketika kamu hanya berkutat di ruang kelas saja? Di dalam ruangan itu,
mengucapkan sepatah-dua patah kata saja kamu tak bisa…
Hidup yang seimbang pun tak ada pelajarannya. Kita harus berjuang menemukan formula yang tepat seiring dewasa
Sekolah mengajarkanmu untuk bekerja keras untuk memperoleh nilai yang baik, namun itu tidak sepenuhnya mengajarkanmu kemampuan untuk menyeimbangkan kemampuanmu yang sebenarnya supaya kamu mencapai kebaikan di segala aspek. Membangun quality time bersama orang-orang tersayang, sambil merintis usaha, dan sambil memastikan bahwa tetap ada waktu senggang untuk sendirian bukanlah hal yang mudah. Mencapai keseimbangan diperlukan untuk memiliki hidup yang membahagiakan. Dan kamu hanya bisa mempelajari cara mencapai keseimbangan seiring kamu dewasa, bukan dengan diam di dalam kelas sana.
Sementara kemampuan belajar dari kegagalan hanya bisa kamu asah setelah berkali-kali gagal
Belajar dari kegagalan bukanlah tujuan utama
sekolah. Sekolah akan mengajarkanmu bagaimana untuk berhasil duduk di peringkat
pertama. Pelajaran menarik untuk diri sendiri, karena kini kita menyadari bahwa
jika semua dipandang dari satu sisi saja, semua siswa pasti akan gagal ujian
kelulusan. Namun tidak ada kegagalan yang sia-sia jika kita belajar untuk
menerima dan memaknainya. Mempelajari apa yang salah dan mengapa sesuatu tidak
berjalan seperti seharusnya dapat membantumu untuk menentukan apa yang harus
kamu lakukan selanjutnya sehingga hal tersebut tidak terjadi lagi sehingga ke
depannya kamu akan menjadi pribadi yang lebih kuat.
Kemampuan yang terpenting dan tak ada pelajarannya di sekolah, adalah kemampuan untuk memaafkan
Memang susah untuk memaafkan
orang yang telah membuatmu bersedih. Dan bahkan lebih sulit bagimu untuk
benar-benar memaafkannya daripada sekadar berpura-pura di depannya.
Belajar bagaimana memaafkan hal-hal yang membuatmu bersedih dan move on adalah kemampuan yang jelas
tidak kamu dapatkan di bangku sekolah karena membutuhkan kesabaran dan
pengertian.