Minggu, 24 Maret 2024

Ramadhan di Sidoarjo

 Beberapa hari terakhir saya dan suami banyak kehilangan waktu untuk mengobrol yang intens. Kesibukan kami masing-masing seperti membuat sekat untuk sekedar pillow talk sebelum tidur seperti hari-hari sebelumnya. Suami saya bekerja di instansi pemerintah yang berfokus pada penanganan bencana daerah Jawa Timur, pada musim penghujan ini kesibukannya meningkat drastis. Tak jarang harus meninggalkan saya dan Arka untuk dinas di luar kota. Bahkan ketika berada di rumah pun beliau tak jarang masih sambil memantau website dan koordinasi laporan dengan tim. Kadang saya cemburu pada kesibukannya tapi saya juga cinta pada dedikasinya yang tidak pernah main-main pada tanggung jawab pekerjaannya.

Ramadhan tahun ini memberi saya rutinitas baru yang semoga menjadi lahan ibadah yang berkah, saya mendapat amanah untuk menemani ibu-ibu kompleks pengajian rutin setiap hari jam 10 pagi. Pengajian kami sederhana sekali, dibuka dengan pembacaan sholawat dan Asmaul Husna, kemudian bersama-sama berlatih membaca Al Qur'an. Di akhir sesi sekitar 20 menit terakhir saya sempatkan untuk sedikit berbincang tentang indahnya cinta Allah pada seluruh makhluknya. Sesi ini luar biasa menarik karena antusias para ibu-ibu sangat menyala. Saya menaruh hormat dan kagum pada beliau semua yang masih bersemangat belajar di masa tuanya.

Merayakan Ramadhan bersama anak todler juga memberi saya warna baru dan kelas belajar yang baru. Saat tubuh kita lapar, haus dan juga mungkin kelelahan tentu ini menjadi momen kritis bagi emosi diri. Bersama anak todler ini saya berkali-kali belajar untuk tetap stabil secara emosional, belajar mampu menjadi ibu yang tetap energik untuk menemaninya bermain dan beraktivitas lainnya.

Malam ini saya hanya berdua dengan Arka karena Ayahnya sedang mendapat tugas dinas ke luar kota. Menikmati hening dan damainya malam di bulan yang penuh berkah ini sambil memandangi teduh wajahnya yang tertidur pulas. Katanya memandang wajah anak yang tertidur pulas itu adalah salah satu nikmat terindah bagi seorang ibu. Dalam hati saya bergumam, mengucapkan syukur kepada sang Maha Cinta. Betapa indahnya cinta yang Allah taburkan dalam cerita hidup saya, Dia titipkan pada seorang anak yang lucu dan pandai. Allah juga hadiahi saya seorang suami yang penuh cinta kasih dan pekerja keras.

Ramadhan selalu menjadi momen yang dirindukan kehadirannya, masa yang dicintai oleh banyak sekali ummat manusia. Pada hari-hari biasa komplek perumahan saya akan sangat sepi di malam hari, mungkin sekitar pukul 8 malam sudah hampir tidak ada suara-suara apapun di luar kecuali sesekali kendaraan atau suara ketukan abang-abang penjual nasi goreng. Ramadhan memberikan suasana yang jauh berbeda, speaker masjid perumahan mengumandangkan lantunan tadarus Al-Qur'an dari para pemuda dan bapak-bapak di malam hari. Pun di pagi hari masjid juga diramaikan oleh ibu-ibu pengajian yang berpakaian serba putih, terkadang serba hitam dan juga terkadang warna warni. Waktu sore harinya masjid menjadi milik anak-anak yang sedang bersiap mengaji TPQ dengan wajah riang gembira. Tidak lupa pula para pedagang takjil mulai hadir meramaikan tepian jalanan sekitar masjid. Suasana ini indah sekali.

Tahun ini adalah tahun ketiga saya berpuasa di Sidoarjo, tapi tak dapat dipungkiri bahwa rasa rindu berpuasa di kampung halaman masih saja kerap mampir. Dua tahun yang lalu saya mudah saja berpindah-pindah, bolak-balik Sidoarjo-Probolinggo jika sedang weekend. Berbeda dengan tahun ini, saya yang telah menerima amanah untuk menemani ibu-ibu mengaji bersama tidak lagi bisa wara-wiri Sidoarjo-Probolinggo. Saya belajar berdamai dengan perubahan ini, bukankah ini bagian dari kelas belajar saya di bulan Ramadhan ini? Semoga Allah selalu indahkan cerita Ramadhan kita semua. Aamiin

Minggu, 03 Maret 2024

Besok Pagi Masak Menu Apa ya?


  Besok pagi masak menu apa ya untuk Adek? Pertanyaan yang selalu muncul setiap kali saya akan beranjak tidur di malam hari. Menemani Adek di masa MPASI memang tidak mudah, banyak tantangan yang perlu diselesaikan dengan baik dan manis. Masalah menu salah satunya yang sangat sederhana. Bagi saya menu makanan selama MPASI memang harus benar-benar dipersiapkan dengan matang, dengan beberapa pertimbangan penting diantaranya ketepatan kandungan gizi dan kelezatan rasanya. 

  Beruntung sekali saya menjadi ibu baru di era modern ini, saya benar-benar terbantu oleh banyaknya konten menu MPASI di berbagai platform media sosial. Bahkan beberapa dokter spesialis anak dan ahli gizi pun banyak sekali yang berbaik hati membagikan resepnya dengan gratis. Salam hormat saya pada para ahli yang baik hati ini. Alhasil kini media sosial saya berandanya dipenuhi oleh beragam menu masakan MPASI yang dibagikan oleh banyak konten kreator hebat. 

  Dulu saya pernah berkhayal ingin membuat konten serupa ketika saya mulai memasak MPASI, sekedar untuk kenang-kenangan. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata rencana itu tidak sempat saya realisasikan. Kalau ditanya alasannya kenapa? Saya rasa karena saya kurang siap. Saya yang belum memiliki keterampilan membuat video, belum memiliki keterampilan menyiapkan keperluan untuk membuat konten edukasi dan saya yang belum siap mental dengan sekian keriwehan ketika memasak sambil mengasuh anak. 

  Ada banyak pilihan alternatif yang sempat mampir di kepala saya ketika masa awal berkutat dengan keriwehan memasak MPASI sambil mengasuh anak. Apa coba beli bubur fortifikasi aja ya, atau beli bubur MPASI masak yang dijual di beberapa tempat itu ya? Pertanyaan-pertanyaan ini beberapa kali mampir dan cukup menjadi bahan diskusi yang panjang antara saya dan suami. Sebuah keputusan yang kemudian kami ambil adalah memasak sendiri menu MPASI di rumah. Keputusan yang tentu datang dengan sederet konsekwensinya, seperti suami yang harus memundurkan waktu berangkat kerjanya di pagi hari dan suami yang juga harus siap riweh belanja berbagai kebutuhan memasak di hari-hari weekend. Satu poinnya di sini, kerja tim yang baik antara suami dan istri adalah kunci sukses dalam masa MPASI.

  Saya sempat disebut sebagai ibu ribet oleh salah satu kerabat keluarga. Mungkin karena mereka melihat dengan sudut pandang satu sisi saja yang berfokus pada kelelahan fisik yang dimunculkan dari keputusan saya yang memasak sendiri menu-menu makanan MPASI. Apakah saya baik-baik saja dengan sebutan ini? Tentu saja tidak.  Saya sempat mengalami masa kecewa yang melukai mental saya. Sampai di titik saya tidak memiliki keberanian untuk sekedar minta tolong pada orang lain selain suami di saat saya benar-benar butuh bantuan. Dalam fase ini saya berjuang untuk kembali sehat secara mental, saya memutuskan untuk datang ke sebuah rumah sakit dan menemui seorang profesional psikiater. Saya menjalani berbagai sesi mulai dari sesi assessment sampai sesi konseling. Bersyukur sekali perlahan saya mulai kembali tenang dan bahagia. Satu poin lagi yang ingin saya titipkan di sini, support sistem yang positif sangat diperlukan untuk seorang ibu yang sedang berjuang di masa MPASI.

  Beberapa kali saya membaca beberapa kolom komentar di platform media sosial tentang cerita para ibu di masa MPASI anaknya, sungguh cerita perjuangan yang tidak mudah. Beberapa kali menemukan kasus sudah capek dan ribet memasak ini itu, ternyata si anak tidak mau makan. Masa dimana anak menutup mulutnya saat makan, atau dilepeh makanan yang diberikan itu adalah titik sensitif bagi seorang ibu. Kemampuan regulasi emosi yang tepat sangat diperlukan saat itu, atur ritme nafas, tersenyum dan mulai membuat afirmasi positif pada diri. Di awal masa MPASI si Adek saya sering gagal meregulasi emosi, akhirnya lelah fisik dan mental yang saya dapatkan. Saya sedih ketika anak makannya tidak lahap apalagi jika berat badannya menjadi turun. Saya memilih jalan mencari platform untuk belajar lagi tentang MPASI, saya mengambil sesi konseling bersama dokter anak yang membuka sesi konseling khusus MPASI via WhatsApp. Banyak ilmu yang saya dapatkan tentang cara meregulasi emosi saat anak sedang tidak doyan makan dan teknik evaluasi terhadap sikap menolak makan si anak.

 Seringkali sebagai ibu saya mengambil kesimpulan bahwa masakan saya tidak enak, si Adek pengen ganti menu dan beberapa asumsi yang fokusnya pada menu makanan lainnya. Setelah belajar lebih banyak saya mulai membuka ruang evaluasi yang lebih luas, mari kita pahami dulu keadaan si anak. Apakah dia makan di waktu yang tepat? Apakah mood nya sedang baik-baik saja? Apakah fisiknya ada masalah, mungkin kembung, atau sedang demam, atau mungkin sedang tumbuh gigi? Apakah si anak benar-benar lapar, atau dia sudah terpapar beberapa cemilan sebelumnya? Beberapa pertanyaan tersebut yang perlu diperhatikan terlebih dahulu sebelum kemudian berfokus pada menu makanan dan rasanya. Sama seperti kita para orang dewasa yang seringkali tidak enak makan saat sedang tidak enak badan, nah anak kita pun sama. Jikka saya boleh berbagi sedikit saran untuk ibu yang sedang berjuang di masa MPASI, saat anak menolak makan tolong jangan dipaksa dengan menjejalkan makanan ke mulutnya. Bukankah kita yang orang dewasa juga marah saat diperlakukan demikian? Jika anak sedang menolak makan mari kita para ibu untuk berjuang sedikit lebih keras untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan dan menarik untuk si anak. Semoga Allah selalu mudahkan perjuangan kita semua.

Sabtu, 11 November 2023

365 Hari



 9 November 2022. Hari pertama saya menjadi seorang ibu. Hari dimana saya tidak menyangka mampu melewati semua kenikmatan ini dengan cukup baik. Merasakan kontraksi yang luar biasa, bayi yang tidak bisa masuk panggul dan akhirnya harus operasi, masuk ruang operasi tanpa ditemani suami ataupun keluarga, perihnya luka operasi sehabis efek anastesi, sembelit selama lima hari pasca melahirkan, puting lecet saat belajar mengasihi, badan demam karena tidak bisa tidur selama berhari-hari dan lain sebagainya. Lelah, sakit, tapi nikmat.

Beriring berjalannya waktu saya mulai menyadari bahwa saya jauh lebih kuat dari yang sekedar saya kira selama ini. Saya juga punya stok sabar yang cukup luas dikala si bayi sedang rewel karena sakit. Mampu terjaga sepanjang malam, tidur hanya 3-4 jam per hari, padahal sebelum menikah saya dikenal sebagai seorang yang suka tidur. Tidak jarang saya tidur di ruang kelas saat masa belajar saya di pesantren, bahkan saat saya kuliah S2 pun saya masih sempat tertidur di ruang kelas di jam perkuliahan berlangsung. 

Hari ini saya menengok kalender sambil tersenyum, waktu telah berjalan selama 365 hari. Mungkin belum lama, tapi tidak juga sebentar. Saya telah mendapatkan kesempatan belajar yang begitu indah selama  setahun menjadi seorang ibu. Menemani bayi lucu yang mulanya hanya tidur tenang sambil sesekali merengek minta digendong, yang hari ini dia bertumbuh menjadi sangat aktif dan rajin mengoceh. 

Menjadi ibu yang sebagian besar waktunya di rumah adalah pilihan yang saya buat jauh hari sebelum menikah. Saya terinspirasi dari seorang ibu yang saya kenal di media sosial, mbak Rauf begitu saya memanggil beliau. Saya melihat betapa indahnya mendedikasikan seluruh waktu dan pikiran untuk si kecil. Memperhatikan setiap tumbuh kembangnya secara langsung, menemani bermain, dan menjadi orang yang paling dicintai oleh si kecil.

Saya mengira akan mudah menjalani peran yang sedemikian rupa. Saya tidak sempat belajar tentang bagaimana saya mengelola konflik-konflik emosi yang nantinya akan saya hadapi. Dan benar saja, saya sempat merasa stres. Merasa kehilangan diri saya, penuh ketakutan dan kekhawatiran, merasa tidak baik-baik saja sepanjang hari dan mudah sekali menangis. Bersyukur sekali saya lekas menyadari gejolak emosi yang saya alami, yang kemudian menjadikan saya mampu memilih cara yang tepat untuk selesai dari badai emosi tersebut. Tentu hal ini bukan karena saya yang pandai tentang teori psikologi, tapi karena ada dukungan yang kuat dari pasangan dan keluarga terdekat saya. 

Saya ingin menitip pesan bagi yang membaca catatan ini. Jika disekitar kalian ada seorang ibu baru, beri dia dukungan emosional yang kuat. Hibur dan beri apresiasi atas usahanya. Jika anda suaminya, jangan ragu untuk berterima kasih padanya. Curahkan cinta yang lebih manis dari sebelumnya supaya dia makin bahagia. Mari saling berjabat tangan untuk merakit rantai-rantai kisah ibu yang bahagia dan sehat mentalnya. Agar tak lagi makin banyak kisah ibu yang mengalami depresi pasca melahirkan.


Selasa, 17 Oktober 2023

Laki-laki dan Game

 Beberapa waktu yang lalu saya dan suami sedang bercengkrama. Entah bagaimana obrolan kami tiba-tiba sampai pada pembahasan tentang game. Kami saling berbagi cerita tentang beberapa teman kami yang sudah menikah yang kemudian saling berselisih karena game. Adakah yang mengalami hal yang serupa? 

Saya melihat banyak laki-laki modern seperti terlahir sepaket dengan kecintaannya pada game. Kecintaan yang tidak mengenal batas usia dan status sosial. Mulai dari anak-anak, para remaja dan bahkan yang sudah dewasa dan berkeluarga, mereka masih mencintai game. Ada yang bilang ini dampak dari teknologi, tapi saya lebih memilih untuk menyebutnya sebagai sebuah kebutuhan. 

Sama halnya dengan perempuan saya merasa bahwa laki-laki juga punya ruang dalam dirinya yang hanya akan terisi ketika ia melakukan aktivitas yang memunculkan perasaan senang, nyaman dan berdaya. Laki-laki yang memiliki kecintaan pada game ini merasa dirinya menjadi sangat "aku" ketika sedang bermain. Karenanya mereka bisa betah hingga berjam-jam lamanya.

Perempuan pun mempunyai ruang yang sama sebenarnya, hanya saja lebih berbatas. Seiring dengan adanya tanggung jawab yang dihadapinya, sebagian perempuan akan rela mengesampingkan apa yang bukan lagi menjadi prioritas utamanya. "Nanti aja deh nonton drakornya, kalau adek udah tidur." Seperti itu misalnya. Hal ini yang kemudian memunculkan pendapat bahwa perempuan lebih cepat matang kedewasaannya dibandingkan laki-laki pada usia yang sama. Oh iya, perlu saya sampaikan disini bahwa ini opini saya dalam mengamati sebagian besar fenomena di sekitar saya tanpa ada niatan untuk menganggap semua laki-laki dan perempuan berada pada fenomena ini.

Saya kemudian bertanya pada suami saya, hal apa yang paling tidak beliau sukai. Diremehkan, begitu beliau menjawabnya. Meski tidak semua laki-laki akan menjawab dengan sama saat ditanya demikian, tetapi saya merasa sebagian besar laki-laki akan sepakat dengan jawaban itu. Nah, saya mulai membuat peta benang merahnya. Ketika laki-laki tidak suka diremehkan, artinya dia akan senang ketika dianggap hebat, dibanggakan, diandalkan, diberi kesempatan dan kepercayaan lalu kemudian menjadi pemenang.

Perasaan semacam itu akan mereka temukan saat bergelut dengan game. Saya sebenarnya tidak terlalu paham ya dengan aturan dalam bermain game pada game-game yang saat ini sedang banyak diminati masyarakat. Yang saya lihat ketika nge-game mereka sedang mengatur strategi, taktik, membuat goal, membangun kerja sama dengan pemain lain, memikirkan pemilihan senjata dan mungkin banyak lagi, yang semua itu tidak mudah. Jadi ketika mereka berhasil mengalahkan lawan mungkin mereka merasa seperti berhasil mendamaikan perang dunia ke tiga.

Ada sebagian istri yang mengeluhkan suaminya yang terlalu berlebihan dalam bermain game. Merasa diabaikan karena kesibuka nge-game hingga tidak ikut terlibat dalam pengasuhan anak ataupun membereskan pekerjaan rumah. Ya wajar saja terjadi konflik jika semacam itu keadaannya. Karenanya saya dan suami kemudian mencoba membuka pendapat masing-masing tentang game. Saya katakan pada beliau, "Aku sih gapapa Jenengan nge-game, tapi diwaktu Arka tidur geh. Kalau misal ada yang harus kita kerjakan bersama, atau ada yang harus kita obrolkan ya aku minta game nya ditunda dulu."

Beliau merespon dengan tenang, sambil berkata jahil "kalau kamu cemburu atau ngomel-ngomel karena game aku malah seneng loh". Lah, kok jadi plot twist begini ya Pak.

Sebelum menutup catatan ini, saya ingin berbisik pada para perempuan yang memiliki pasangan pecinta game. Gapapa kalian marah jika nge-game nya itu sampai melalaikan tugas dan kewajibannya. Tapi jika sebagai laki-laki mereka sudah memenuhi kewajibannya, bolehlah kita beri mereka ruang untuk bermain. Bukalah ruang obrolan tentang game dengan pasangan, supaya sama-sama legowo. 

Selamat malam, catatan ini ditulis disamping suami yang sedang serius nge-game.

Senin, 16 Oktober 2023

Arka dan Bunda

Perkenalkan namanya Arka, bayi lucu yang Allah hadiahkan untuk saya. Seiring bertambah usianya rasanya semakin menggemaskan sekali memandangi wajahnya. Beberapa kali saya cubit pipi dan hidungnya saat kami sedang saling bercanda, dia kadang tertawa, tersenyum atau kadang merengek sebal. Mendapatkan amanah menjadi seorang ibu adalah satu hal yang sangat saya syukuri. Rasanya beribu hamdalah yang terucap itu tidak pernah cukup untuk mewakili perasaan indah yang bersemayam di hati saya. Tak jarang saya tiba-tiba menangis saat memandangi wajah lucunya yang sedang terlelap, menangis karena terharu, bahagia dan beragam perasaan indah lainnya. 

Semakin hari Arka bertumbuh menjadi semakin aktif. Makin tidak terhitung pula kelucuan-kelucuan yang ditampilkan bayi mungil ini. Seperti pagi ini, dia ingin membantu Bundanya memetik sayuran, sambil menghamburkan setiap hasil petikan bundanya ke lantai. Sambil tersenyum saya pegang tangannya dan berkata, "Dek, nanti kalau udah besar kita masak bareng ya. Adek yang goreng tempe, bunda yang tumis kangkungnya." Dia tertawa lepas seakan mengerti apa yang baru saja ucapkan. Saya ingin Arka melihat setiap aktivitas Bundanya di dapur, bahkan boleh terlibat asalkan itu tidak berbahaya. Harapan saya sederhana supaya Arka tidak enggan untuk kelak membantu Bundanya di dapur. Saya juga seringkali mengajaknya berbincang bahwa anak laki-laki juga boleh memasak, boleh membantu Bundanya mencuci piring dan lainnya. 

Saya tahu betul Arka mungkin belum sepenuhnya mengerti apa arti kalimat yang saya katakan padanya, tapi saya yakin hal ini tidak sia-sia. Seperti yang pernah saya pelajari dari berbagai sumber, pola komunikasi yang baik perlu dikenalkan sejak bayi. Karenanya saya seringkali mengajak Arka berbincang banyak hal, dan jika dia merespon dengan ocehan ataupun senyuman saya akan berganti menyimaknya. Pola semacam ini akan terekam di memorinya dan harapan saya saat ia semakin bertumbuh dia akan semakin baik pola komunikasinya.

Membersamai Arka bertumbuh dan berkembang memberikan banyak sekali pembelajaran baru untuk saya. Saya mungkin sudah sering mempelajari konsep emosi dan bagaimana cara mengelolanya dengan tepat, tapi sekarang rasanya saya seperti belajar lagi dari nol dengan media yang sangat berbeda. Bukan lagi dengan buku, presentasi dan diskusi. Kini saya belajar dengan studi kasus dan praktek lapangan. Rasanya luar biasa, beberapa kali saya gagal lalu bersedih dan kemudian sangat bahagia ketika saya berhasil. 

Sedikit cerita ketika saya berada di masa 40 hari pertama menjadi ibu untuk Arka. Masa-masa ini menjadi fase yang menurut saya sangat tidak mudah. Saya berada pada dua keadaan yang baru, pertama saya sedang pemulihan pasca operasi persalinan dan kedua saya harus belajar menjadi ibu yang di dalamnya meliputi banyak hal, seperti mengurus bayi dan memberikan ASI. Saya sempat gagal mengenali emosi saya saat itu, saya berada pada keadaan yang lelah secara fisik dan psikis tapi saya menolak emosi tersebut. Saya memaksa diri saya untuk merasa baik-baik saja dan bahagia. Hingga akhirnya saya mengalami baby blues, sebuah keadaan psikologis ibu pasca melahirkan yang mengalami gangguan emosi. Saya merasa tiba-tiba bersedih, merasa tidak berdaya dan seringkali merasa cemas dan takut. Beruntungnya saya segera menyadari keadaan ini dan berusaha untuk menerimanya. Saya kemudian menyampaikan hal ini pada suami, dan pelan-pelan saya belajar untuk bangkit. 

Pengalaman ini memberikan saya kesempatan untuk mengerti betapa pentingnya kolaborasi dalam masa pengasuhan anak. Kolaborasi ini tentu melibatkan banyak sekali pihak, tapi yang menjadi kuncinya adalah kolaborasi antara istri dan suami. Setiap ibu perlu sekali mendapatkan dukungan secara fisiologis dan psikologis dari suami, keluarga dan teman-temannya dalam menjalankan masa pengasuhannya, terlebih bagi ibu baru. Pengalaman ini menyentuh titik empati saya dengan hangat, dan saya sangat berterimakasih pada Allah untuk hal ini. Terimakasih ya Allah untuk banyak sekali hal indah yang Panjenengan ajarkan pada saya lewat kehadiran Arka. 

Sabtu, 06 Juni 2015



Pelajaran Kehidupan di Luar Sekolah
“Kakaak, ayo belajar biar pintar!”
Waktu kecil dulu kita selalu didorong agar berprestasi di sekolah. Kita ‘sah’ disebut pintar jika mendapat angka 10 saat ulangan, rajin mencatat pelajaran, punya raport bagus, dan mematuhi guru. Anak-anak yang tidak memenuhi kriteria di atas akan rawan dicap malas, nakal, atau bodoh.
Padahal, tak semua anak cocok dengan lingkungan sekolah. Tidak menjadi yang terbaik di bidang akademik pun bukan berarti kamu bodoh, karena sekolah tak mengajarkan semua hal penting dalam hidup. Memang, matematika, bahasa Inggris, ilmu alam, kedisiplinan dan berbagai pelajaran fundamental lainnya kita dapatkan di sekolah. Tapi tempat itu tidak mengajarkan pada kita hal-hal di bawah ini, yang tak kalah pentingnya untuk membentuk hidup yang berguna.
Hanya dengan benar-benar hidup dan menimba pengalaman di luar sekolahlah, kita bisa menguasai hal-hal ini:
Kemampuan bersosialisasi juga hanya bisa kamu dapatkan di luar kelas. Karena di dalam kelas, kamu bahkan tak boleh mengobrol jika tak ingin dibilang nakal
Kamu pasti senang, dong, ketika mengatur isi profil di Facebook? Menulis apa hobi kamu, dan apa saja kesukaanmu. Itu membuktikan bahwa hidup mengajarkanmu untuk membentuk identitasmu sendiri untuk menyiapkan dirimu agar mampu untuk bersosialisasi. Di manapun kamu bersekolah, kamu tetap kamu, yang memiliki segudang keunikan yang mungkin nggak dimiliki orang lain.
Namun, kemampuan sosialisasi ini hanya bisa kamu miliki ketika kamu sudah terlatih mengobrol bersama orang lain. Kemampuan ini juga hanya bisa berkembang ketika kamu peka pada perasaan orang lain, pada apa yang mereka suka dan tak suka. Bagaimana mungkin semua hal ini bisa kamu asah ketika kamu hanya berkutat di ruang kelas saja? Di dalam ruangan itu, mengucapkan sepatah-dua patah kata saja kamu tak bisa…

Hidup yang seimbang pun tak ada pelajarannya. Kita harus berjuang menemukan formula yang tepat seiring dewasa

Sekolah mengajarkanmu untuk bekerja keras untuk memperoleh nilai yang baik, namun itu tidak sepenuhnya mengajarkanmu kemampuan untuk menyeimbangkan kemampuanmu yang sebenarnya supaya kamu mencapai kebaikan di segala aspek. Membangun quality time bersama orang-orang tersayang, sambil merintis usaha, dan sambil memastikan bahwa tetap ada waktu senggang untuk sendirian bukanlah hal yang mudah. Mencapai keseimbangan diperlukan untuk memiliki hidup yang membahagiakan. Dan kamu hanya bisa mempelajari cara mencapai keseimbangan seiring kamu dewasa, bukan dengan diam di dalam kelas sana.


Sementara kemampuan belajar dari kegagalan hanya bisa kamu asah setelah berkali-kali gagal

Belajar dari kegagalan bukanlah tujuan utama sekolah. Sekolah akan mengajarkanmu bagaimana untuk berhasil duduk di peringkat pertama. Pelajaran menarik untuk diri sendiri, karena kini kita menyadari bahwa jika semua dipandang dari satu sisi saja, semua siswa pasti akan gagal ujian kelulusan. Namun tidak ada kegagalan yang sia-sia jika kita belajar untuk menerima dan memaknainya. Mempelajari apa yang salah dan mengapa sesuatu tidak berjalan seperti seharusnya dapat membantumu untuk menentukan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya sehingga hal tersebut tidak terjadi lagi sehingga ke depannya kamu akan menjadi pribadi yang lebih kuat.

Kemampuan yang terpenting dan tak ada pelajarannya di sekolah, adalah kemampuan untuk memaafkan

Memang susah untuk memaafkan orang yang telah membuatmu bersedih. Dan bahkan lebih sulit bagimu untuk benar-benar memaafkannya daripada sekadar berpura-pura di depannya. Belajar bagaimana memaafkan hal-hal yang membuatmu bersedih dan move on adalah kemampuan yang jelas tidak kamu dapatkan di bangku sekolah karena membutuhkan kesabaran dan pengertian.

Rabu, 01 April 2015

celoteh selimut




Kudengar langkah gontai itu menghampiriku..
Ah,, lagi-lagi wajah lesu itu yang menghampiriku..
Andai mampu kuberucap, “apa yang terjadi dengan harimu tuan?”
Mungkin malam menjadi terlalu singkat untuk menampung keluhnya..
Dalam diam kuperhatikan detil tingkahnya,
Masih sama rupanya,,
Dengan langkah gontai, napas yang berat dan selayang wajah yang usang..
Dijinjingnya kotak hitam nan ajaib itu..
Ajaib,, ya.. itu gelar yang sangat pantas untuknya..
Kotak hitam kecil yang tak seberapa dari ukuran tubuhku,, tapi ia begitu hebatnya..
Ia yang menjadi teman setia tuanku,, lebih dariku mungkin..
Dan bersamanya, kusaksikan ia tiba-tiba garang, culas atau mungkin malah tersenyum renyah..
pernah kudengar tuan memanggilnya dengan nama laptop..
mungkin ia terlahir dari masa modern, hingga aku pun tak begitu mengenalnya..
Tuan.., Tuan.., Tuanku..
Panggilku rupanya tak diresponnya,, oh.. ia tlah tertidur rupanya..
Dan aku,, sekali lagi terlupakan dari episode malamnya..
Karena aku tak seajaib kotak hitam kecil itu,, mungkin saja..
Atau karena aku bukan bagian keluarga yang modern???
Biarlah,, aku tak peduli itu Tuan..
Dalam diamku,, aku lebih peduli dengan setiap detil darimu..
semoga esok kau kan terbangun bahagia..
Semoga malam esok kau kan berpulang dengan ceria, dan aku…
Tak lagi menjadi seonggok selimut yang terlupakan…