Sabtu, 11 November 2023

365 Hari



 9 November 2022. Hari pertama saya menjadi seorang ibu. Hari dimana saya tidak menyangka mampu melewati semua kenikmatan ini dengan cukup baik. Merasakan kontraksi yang luar biasa, bayi yang tidak bisa masuk panggul dan akhirnya harus operasi, masuk ruang operasi tanpa ditemani suami ataupun keluarga, perihnya luka operasi sehabis efek anastesi, sembelit selama lima hari pasca melahirkan, puting lecet saat belajar mengasihi, badan demam karena tidak bisa tidur selama berhari-hari dan lain sebagainya. Lelah, sakit, tapi nikmat.

Beriring berjalannya waktu saya mulai menyadari bahwa saya jauh lebih kuat dari yang sekedar saya kira selama ini. Saya juga punya stok sabar yang cukup luas dikala si bayi sedang rewel karena sakit. Mampu terjaga sepanjang malam, tidur hanya 3-4 jam per hari, padahal sebelum menikah saya dikenal sebagai seorang yang suka tidur. Tidak jarang saya tidur di ruang kelas saat masa belajar saya di pesantren, bahkan saat saya kuliah S2 pun saya masih sempat tertidur di ruang kelas di jam perkuliahan berlangsung. 

Hari ini saya menengok kalender sambil tersenyum, waktu telah berjalan selama 365 hari. Mungkin belum lama, tapi tidak juga sebentar. Saya telah mendapatkan kesempatan belajar yang begitu indah selama  setahun menjadi seorang ibu. Menemani bayi lucu yang mulanya hanya tidur tenang sambil sesekali merengek minta digendong, yang hari ini dia bertumbuh menjadi sangat aktif dan rajin mengoceh. 

Menjadi ibu yang sebagian besar waktunya di rumah adalah pilihan yang saya buat jauh hari sebelum menikah. Saya terinspirasi dari seorang ibu yang saya kenal di media sosial, mbak Rauf begitu saya memanggil beliau. Saya melihat betapa indahnya mendedikasikan seluruh waktu dan pikiran untuk si kecil. Memperhatikan setiap tumbuh kembangnya secara langsung, menemani bermain, dan menjadi orang yang paling dicintai oleh si kecil.

Saya mengira akan mudah menjalani peran yang sedemikian rupa. Saya tidak sempat belajar tentang bagaimana saya mengelola konflik-konflik emosi yang nantinya akan saya hadapi. Dan benar saja, saya sempat merasa stres. Merasa kehilangan diri saya, penuh ketakutan dan kekhawatiran, merasa tidak baik-baik saja sepanjang hari dan mudah sekali menangis. Bersyukur sekali saya lekas menyadari gejolak emosi yang saya alami, yang kemudian menjadikan saya mampu memilih cara yang tepat untuk selesai dari badai emosi tersebut. Tentu hal ini bukan karena saya yang pandai tentang teori psikologi, tapi karena ada dukungan yang kuat dari pasangan dan keluarga terdekat saya. 

Saya ingin menitip pesan bagi yang membaca catatan ini. Jika disekitar kalian ada seorang ibu baru, beri dia dukungan emosional yang kuat. Hibur dan beri apresiasi atas usahanya. Jika anda suaminya, jangan ragu untuk berterima kasih padanya. Curahkan cinta yang lebih manis dari sebelumnya supaya dia makin bahagia. Mari saling berjabat tangan untuk merakit rantai-rantai kisah ibu yang bahagia dan sehat mentalnya. Agar tak lagi makin banyak kisah ibu yang mengalami depresi pasca melahirkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar