Minggu, 24 Maret 2024

Ramadhan di Sidoarjo

 Beberapa hari terakhir saya dan suami banyak kehilangan waktu untuk mengobrol yang intens. Kesibukan kami masing-masing seperti membuat sekat untuk sekedar pillow talk sebelum tidur seperti hari-hari sebelumnya. Suami saya bekerja di instansi pemerintah yang berfokus pada penanganan bencana daerah Jawa Timur, pada musim penghujan ini kesibukannya meningkat drastis. Tak jarang harus meninggalkan saya dan Arka untuk dinas di luar kota. Bahkan ketika berada di rumah pun beliau tak jarang masih sambil memantau website dan koordinasi laporan dengan tim. Kadang saya cemburu pada kesibukannya tapi saya juga cinta pada dedikasinya yang tidak pernah main-main pada tanggung jawab pekerjaannya.

Ramadhan tahun ini memberi saya rutinitas baru yang semoga menjadi lahan ibadah yang berkah, saya mendapat amanah untuk menemani ibu-ibu kompleks pengajian rutin setiap hari jam 10 pagi. Pengajian kami sederhana sekali, dibuka dengan pembacaan sholawat dan Asmaul Husna, kemudian bersama-sama berlatih membaca Al Qur'an. Di akhir sesi sekitar 20 menit terakhir saya sempatkan untuk sedikit berbincang tentang indahnya cinta Allah pada seluruh makhluknya. Sesi ini luar biasa menarik karena antusias para ibu-ibu sangat menyala. Saya menaruh hormat dan kagum pada beliau semua yang masih bersemangat belajar di masa tuanya.

Merayakan Ramadhan bersama anak todler juga memberi saya warna baru dan kelas belajar yang baru. Saat tubuh kita lapar, haus dan juga mungkin kelelahan tentu ini menjadi momen kritis bagi emosi diri. Bersama anak todler ini saya berkali-kali belajar untuk tetap stabil secara emosional, belajar mampu menjadi ibu yang tetap energik untuk menemaninya bermain dan beraktivitas lainnya.

Malam ini saya hanya berdua dengan Arka karena Ayahnya sedang mendapat tugas dinas ke luar kota. Menikmati hening dan damainya malam di bulan yang penuh berkah ini sambil memandangi teduh wajahnya yang tertidur pulas. Katanya memandang wajah anak yang tertidur pulas itu adalah salah satu nikmat terindah bagi seorang ibu. Dalam hati saya bergumam, mengucapkan syukur kepada sang Maha Cinta. Betapa indahnya cinta yang Allah taburkan dalam cerita hidup saya, Dia titipkan pada seorang anak yang lucu dan pandai. Allah juga hadiahi saya seorang suami yang penuh cinta kasih dan pekerja keras.

Ramadhan selalu menjadi momen yang dirindukan kehadirannya, masa yang dicintai oleh banyak sekali ummat manusia. Pada hari-hari biasa komplek perumahan saya akan sangat sepi di malam hari, mungkin sekitar pukul 8 malam sudah hampir tidak ada suara-suara apapun di luar kecuali sesekali kendaraan atau suara ketukan abang-abang penjual nasi goreng. Ramadhan memberikan suasana yang jauh berbeda, speaker masjid perumahan mengumandangkan lantunan tadarus Al-Qur'an dari para pemuda dan bapak-bapak di malam hari. Pun di pagi hari masjid juga diramaikan oleh ibu-ibu pengajian yang berpakaian serba putih, terkadang serba hitam dan juga terkadang warna warni. Waktu sore harinya masjid menjadi milik anak-anak yang sedang bersiap mengaji TPQ dengan wajah riang gembira. Tidak lupa pula para pedagang takjil mulai hadir meramaikan tepian jalanan sekitar masjid. Suasana ini indah sekali.

Tahun ini adalah tahun ketiga saya berpuasa di Sidoarjo, tapi tak dapat dipungkiri bahwa rasa rindu berpuasa di kampung halaman masih saja kerap mampir. Dua tahun yang lalu saya mudah saja berpindah-pindah, bolak-balik Sidoarjo-Probolinggo jika sedang weekend. Berbeda dengan tahun ini, saya yang telah menerima amanah untuk menemani ibu-ibu mengaji bersama tidak lagi bisa wara-wiri Sidoarjo-Probolinggo. Saya belajar berdamai dengan perubahan ini, bukankah ini bagian dari kelas belajar saya di bulan Ramadhan ini? Semoga Allah selalu indahkan cerita Ramadhan kita semua. Aamiin

Minggu, 03 Maret 2024

Besok Pagi Masak Menu Apa ya?


  Besok pagi masak menu apa ya untuk Adek? Pertanyaan yang selalu muncul setiap kali saya akan beranjak tidur di malam hari. Menemani Adek di masa MPASI memang tidak mudah, banyak tantangan yang perlu diselesaikan dengan baik dan manis. Masalah menu salah satunya yang sangat sederhana. Bagi saya menu makanan selama MPASI memang harus benar-benar dipersiapkan dengan matang, dengan beberapa pertimbangan penting diantaranya ketepatan kandungan gizi dan kelezatan rasanya. 

  Beruntung sekali saya menjadi ibu baru di era modern ini, saya benar-benar terbantu oleh banyaknya konten menu MPASI di berbagai platform media sosial. Bahkan beberapa dokter spesialis anak dan ahli gizi pun banyak sekali yang berbaik hati membagikan resepnya dengan gratis. Salam hormat saya pada para ahli yang baik hati ini. Alhasil kini media sosial saya berandanya dipenuhi oleh beragam menu masakan MPASI yang dibagikan oleh banyak konten kreator hebat. 

  Dulu saya pernah berkhayal ingin membuat konten serupa ketika saya mulai memasak MPASI, sekedar untuk kenang-kenangan. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata rencana itu tidak sempat saya realisasikan. Kalau ditanya alasannya kenapa? Saya rasa karena saya kurang siap. Saya yang belum memiliki keterampilan membuat video, belum memiliki keterampilan menyiapkan keperluan untuk membuat konten edukasi dan saya yang belum siap mental dengan sekian keriwehan ketika memasak sambil mengasuh anak. 

  Ada banyak pilihan alternatif yang sempat mampir di kepala saya ketika masa awal berkutat dengan keriwehan memasak MPASI sambil mengasuh anak. Apa coba beli bubur fortifikasi aja ya, atau beli bubur MPASI masak yang dijual di beberapa tempat itu ya? Pertanyaan-pertanyaan ini beberapa kali mampir dan cukup menjadi bahan diskusi yang panjang antara saya dan suami. Sebuah keputusan yang kemudian kami ambil adalah memasak sendiri menu MPASI di rumah. Keputusan yang tentu datang dengan sederet konsekwensinya, seperti suami yang harus memundurkan waktu berangkat kerjanya di pagi hari dan suami yang juga harus siap riweh belanja berbagai kebutuhan memasak di hari-hari weekend. Satu poinnya di sini, kerja tim yang baik antara suami dan istri adalah kunci sukses dalam masa MPASI.

  Saya sempat disebut sebagai ibu ribet oleh salah satu kerabat keluarga. Mungkin karena mereka melihat dengan sudut pandang satu sisi saja yang berfokus pada kelelahan fisik yang dimunculkan dari keputusan saya yang memasak sendiri menu-menu makanan MPASI. Apakah saya baik-baik saja dengan sebutan ini? Tentu saja tidak.  Saya sempat mengalami masa kecewa yang melukai mental saya. Sampai di titik saya tidak memiliki keberanian untuk sekedar minta tolong pada orang lain selain suami di saat saya benar-benar butuh bantuan. Dalam fase ini saya berjuang untuk kembali sehat secara mental, saya memutuskan untuk datang ke sebuah rumah sakit dan menemui seorang profesional psikiater. Saya menjalani berbagai sesi mulai dari sesi assessment sampai sesi konseling. Bersyukur sekali perlahan saya mulai kembali tenang dan bahagia. Satu poin lagi yang ingin saya titipkan di sini, support sistem yang positif sangat diperlukan untuk seorang ibu yang sedang berjuang di masa MPASI.

  Beberapa kali saya membaca beberapa kolom komentar di platform media sosial tentang cerita para ibu di masa MPASI anaknya, sungguh cerita perjuangan yang tidak mudah. Beberapa kali menemukan kasus sudah capek dan ribet memasak ini itu, ternyata si anak tidak mau makan. Masa dimana anak menutup mulutnya saat makan, atau dilepeh makanan yang diberikan itu adalah titik sensitif bagi seorang ibu. Kemampuan regulasi emosi yang tepat sangat diperlukan saat itu, atur ritme nafas, tersenyum dan mulai membuat afirmasi positif pada diri. Di awal masa MPASI si Adek saya sering gagal meregulasi emosi, akhirnya lelah fisik dan mental yang saya dapatkan. Saya sedih ketika anak makannya tidak lahap apalagi jika berat badannya menjadi turun. Saya memilih jalan mencari platform untuk belajar lagi tentang MPASI, saya mengambil sesi konseling bersama dokter anak yang membuka sesi konseling khusus MPASI via WhatsApp. Banyak ilmu yang saya dapatkan tentang cara meregulasi emosi saat anak sedang tidak doyan makan dan teknik evaluasi terhadap sikap menolak makan si anak.

 Seringkali sebagai ibu saya mengambil kesimpulan bahwa masakan saya tidak enak, si Adek pengen ganti menu dan beberapa asumsi yang fokusnya pada menu makanan lainnya. Setelah belajar lebih banyak saya mulai membuka ruang evaluasi yang lebih luas, mari kita pahami dulu keadaan si anak. Apakah dia makan di waktu yang tepat? Apakah mood nya sedang baik-baik saja? Apakah fisiknya ada masalah, mungkin kembung, atau sedang demam, atau mungkin sedang tumbuh gigi? Apakah si anak benar-benar lapar, atau dia sudah terpapar beberapa cemilan sebelumnya? Beberapa pertanyaan tersebut yang perlu diperhatikan terlebih dahulu sebelum kemudian berfokus pada menu makanan dan rasanya. Sama seperti kita para orang dewasa yang seringkali tidak enak makan saat sedang tidak enak badan, nah anak kita pun sama. Jikka saya boleh berbagi sedikit saran untuk ibu yang sedang berjuang di masa MPASI, saat anak menolak makan tolong jangan dipaksa dengan menjejalkan makanan ke mulutnya. Bukankah kita yang orang dewasa juga marah saat diperlakukan demikian? Jika anak sedang menolak makan mari kita para ibu untuk berjuang sedikit lebih keras untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan dan menarik untuk si anak. Semoga Allah selalu mudahkan perjuangan kita semua.