Halus hembusan angin malam menemani anganku terbang. Sejurus, hawa
dingin mulai menembus lapisan jaket yang ku kenakan, lalu mulai menjalar halus
diatas pori-pori kulit, menguat dan merambat menusuk tulang.
Malam masih saja selalu menyimpan cerita,
menjadi peraduan setiap letih yang
tersirat.
Begitulah tingkah si manusia,
setelah habis dayanya ia berpulang berbagi
letih dalam dekapan gelap malam.
Berteman temaram kerlip taburan bintang,
ku coba mengurai cerita.., mengadukan resah
jiwa..
Bintang..,
Ingin aku bertanya padamu, benarkah negriku ini pernah dijuluki negeri
maritim? Jika benar, pasti luas sekali hamparan air asin di negriku, ah..,
andai saja aku mampu mengarungi setiap jengkal darinya. Tapi bintang, aku
kembali tak habis fikir. jika negriku kaya lautan, mengapa garamku masih
berstatus garam impor? Lelucon macam apa ini, bukankah garam dihasilkan dari
air laut kan…, siapa aktor ulung yang merangkai mulus lelucon ini, atau
mungkin.. aku kah yang terlalu naïf tentang ketidaktahuanku ini…
Bintang..,
Kali ini aku ingin bertanya padamu tentang seberapa suburnya negriku
dahulu? Hingga kata mereka, sebongkah kayu yang tertancap di tanahku akan
berakar dan berbuah. Andai diijinkan, aku ingin terbang ke dimensi waktu kala
itu, pasti hutanku hijau permai. Tapi kini, mengapa hutanku mulai gundul?
Mengapa longsor terus menghantui sepanjang musim? Mungkinkah kesuburan tanahku
telah habis masanya? Atau mungkin, mereka sempat lupa lalu khilaf
menelantarkannya?
Bintang..,
Mungkin aku terlalu cerewet, bertutur tiada henti. Aku hanya letih..
mendengar kisah manis mereka yang tak mampu kulihat nyatanya. Kata mereka,
negriku kaya, damai, subur, dan indah. Tapi naasnya, saat kini aku mulai
beranjak dewasa tak kusaksikan negeriku sperti itu.., yang tersaji dihadapku
kini, bukan Indonesia yang kaya, tapi Indonesia yang dililit hutang.., bukan
lagi Indonesia yang damai, tapi Indonesia yang ramai pertikaian politik.. ingin
aku bertanya pada mereka, siapa yang bertanggung jawab untuk apa yang menimpa
negriku kini.., atau mungkin… aku yang terlambat dilahirkan, sehingga harus
menjadi saksi kemalangan negriku yang dulu kata mereka pernah dipuja….
Bintang..,
Kadang aku berharap, sebuah keajaiban Tuhan yang kemudian
menjadikanmu lancar berbicara.., entah mengapa aku begitu yakinnya,, engkau
tahu semua jawaban dari tanyaku. Karena engkau kawan setia angin malam. Dan
malam,, masih saja menjadi peraduan keluh kesah, dan letih mereka…