Selasa, 17 Oktober 2023

Laki-laki dan Game

 Beberapa waktu yang lalu saya dan suami sedang bercengkrama. Entah bagaimana obrolan kami tiba-tiba sampai pada pembahasan tentang game. Kami saling berbagi cerita tentang beberapa teman kami yang sudah menikah yang kemudian saling berselisih karena game. Adakah yang mengalami hal yang serupa? 

Saya melihat banyak laki-laki modern seperti terlahir sepaket dengan kecintaannya pada game. Kecintaan yang tidak mengenal batas usia dan status sosial. Mulai dari anak-anak, para remaja dan bahkan yang sudah dewasa dan berkeluarga, mereka masih mencintai game. Ada yang bilang ini dampak dari teknologi, tapi saya lebih memilih untuk menyebutnya sebagai sebuah kebutuhan. 

Sama halnya dengan perempuan saya merasa bahwa laki-laki juga punya ruang dalam dirinya yang hanya akan terisi ketika ia melakukan aktivitas yang memunculkan perasaan senang, nyaman dan berdaya. Laki-laki yang memiliki kecintaan pada game ini merasa dirinya menjadi sangat "aku" ketika sedang bermain. Karenanya mereka bisa betah hingga berjam-jam lamanya.

Perempuan pun mempunyai ruang yang sama sebenarnya, hanya saja lebih berbatas. Seiring dengan adanya tanggung jawab yang dihadapinya, sebagian perempuan akan rela mengesampingkan apa yang bukan lagi menjadi prioritas utamanya. "Nanti aja deh nonton drakornya, kalau adek udah tidur." Seperti itu misalnya. Hal ini yang kemudian memunculkan pendapat bahwa perempuan lebih cepat matang kedewasaannya dibandingkan laki-laki pada usia yang sama. Oh iya, perlu saya sampaikan disini bahwa ini opini saya dalam mengamati sebagian besar fenomena di sekitar saya tanpa ada niatan untuk menganggap semua laki-laki dan perempuan berada pada fenomena ini.

Saya kemudian bertanya pada suami saya, hal apa yang paling tidak beliau sukai. Diremehkan, begitu beliau menjawabnya. Meski tidak semua laki-laki akan menjawab dengan sama saat ditanya demikian, tetapi saya merasa sebagian besar laki-laki akan sepakat dengan jawaban itu. Nah, saya mulai membuat peta benang merahnya. Ketika laki-laki tidak suka diremehkan, artinya dia akan senang ketika dianggap hebat, dibanggakan, diandalkan, diberi kesempatan dan kepercayaan lalu kemudian menjadi pemenang.

Perasaan semacam itu akan mereka temukan saat bergelut dengan game. Saya sebenarnya tidak terlalu paham ya dengan aturan dalam bermain game pada game-game yang saat ini sedang banyak diminati masyarakat. Yang saya lihat ketika nge-game mereka sedang mengatur strategi, taktik, membuat goal, membangun kerja sama dengan pemain lain, memikirkan pemilihan senjata dan mungkin banyak lagi, yang semua itu tidak mudah. Jadi ketika mereka berhasil mengalahkan lawan mungkin mereka merasa seperti berhasil mendamaikan perang dunia ke tiga.

Ada sebagian istri yang mengeluhkan suaminya yang terlalu berlebihan dalam bermain game. Merasa diabaikan karena kesibuka nge-game hingga tidak ikut terlibat dalam pengasuhan anak ataupun membereskan pekerjaan rumah. Ya wajar saja terjadi konflik jika semacam itu keadaannya. Karenanya saya dan suami kemudian mencoba membuka pendapat masing-masing tentang game. Saya katakan pada beliau, "Aku sih gapapa Jenengan nge-game, tapi diwaktu Arka tidur geh. Kalau misal ada yang harus kita kerjakan bersama, atau ada yang harus kita obrolkan ya aku minta game nya ditunda dulu."

Beliau merespon dengan tenang, sambil berkata jahil "kalau kamu cemburu atau ngomel-ngomel karena game aku malah seneng loh". Lah, kok jadi plot twist begini ya Pak.

Sebelum menutup catatan ini, saya ingin berbisik pada para perempuan yang memiliki pasangan pecinta game. Gapapa kalian marah jika nge-game nya itu sampai melalaikan tugas dan kewajibannya. Tapi jika sebagai laki-laki mereka sudah memenuhi kewajibannya, bolehlah kita beri mereka ruang untuk bermain. Bukalah ruang obrolan tentang game dengan pasangan, supaya sama-sama legowo. 

Selamat malam, catatan ini ditulis disamping suami yang sedang serius nge-game.

Senin, 16 Oktober 2023

Arka dan Bunda

Perkenalkan namanya Arka, bayi lucu yang Allah hadiahkan untuk saya. Seiring bertambah usianya rasanya semakin menggemaskan sekali memandangi wajahnya. Beberapa kali saya cubit pipi dan hidungnya saat kami sedang saling bercanda, dia kadang tertawa, tersenyum atau kadang merengek sebal. Mendapatkan amanah menjadi seorang ibu adalah satu hal yang sangat saya syukuri. Rasanya beribu hamdalah yang terucap itu tidak pernah cukup untuk mewakili perasaan indah yang bersemayam di hati saya. Tak jarang saya tiba-tiba menangis saat memandangi wajah lucunya yang sedang terlelap, menangis karena terharu, bahagia dan beragam perasaan indah lainnya. 

Semakin hari Arka bertumbuh menjadi semakin aktif. Makin tidak terhitung pula kelucuan-kelucuan yang ditampilkan bayi mungil ini. Seperti pagi ini, dia ingin membantu Bundanya memetik sayuran, sambil menghamburkan setiap hasil petikan bundanya ke lantai. Sambil tersenyum saya pegang tangannya dan berkata, "Dek, nanti kalau udah besar kita masak bareng ya. Adek yang goreng tempe, bunda yang tumis kangkungnya." Dia tertawa lepas seakan mengerti apa yang baru saja ucapkan. Saya ingin Arka melihat setiap aktivitas Bundanya di dapur, bahkan boleh terlibat asalkan itu tidak berbahaya. Harapan saya sederhana supaya Arka tidak enggan untuk kelak membantu Bundanya di dapur. Saya juga seringkali mengajaknya berbincang bahwa anak laki-laki juga boleh memasak, boleh membantu Bundanya mencuci piring dan lainnya. 

Saya tahu betul Arka mungkin belum sepenuhnya mengerti apa arti kalimat yang saya katakan padanya, tapi saya yakin hal ini tidak sia-sia. Seperti yang pernah saya pelajari dari berbagai sumber, pola komunikasi yang baik perlu dikenalkan sejak bayi. Karenanya saya seringkali mengajak Arka berbincang banyak hal, dan jika dia merespon dengan ocehan ataupun senyuman saya akan berganti menyimaknya. Pola semacam ini akan terekam di memorinya dan harapan saya saat ia semakin bertumbuh dia akan semakin baik pola komunikasinya.

Membersamai Arka bertumbuh dan berkembang memberikan banyak sekali pembelajaran baru untuk saya. Saya mungkin sudah sering mempelajari konsep emosi dan bagaimana cara mengelolanya dengan tepat, tapi sekarang rasanya saya seperti belajar lagi dari nol dengan media yang sangat berbeda. Bukan lagi dengan buku, presentasi dan diskusi. Kini saya belajar dengan studi kasus dan praktek lapangan. Rasanya luar biasa, beberapa kali saya gagal lalu bersedih dan kemudian sangat bahagia ketika saya berhasil. 

Sedikit cerita ketika saya berada di masa 40 hari pertama menjadi ibu untuk Arka. Masa-masa ini menjadi fase yang menurut saya sangat tidak mudah. Saya berada pada dua keadaan yang baru, pertama saya sedang pemulihan pasca operasi persalinan dan kedua saya harus belajar menjadi ibu yang di dalamnya meliputi banyak hal, seperti mengurus bayi dan memberikan ASI. Saya sempat gagal mengenali emosi saya saat itu, saya berada pada keadaan yang lelah secara fisik dan psikis tapi saya menolak emosi tersebut. Saya memaksa diri saya untuk merasa baik-baik saja dan bahagia. Hingga akhirnya saya mengalami baby blues, sebuah keadaan psikologis ibu pasca melahirkan yang mengalami gangguan emosi. Saya merasa tiba-tiba bersedih, merasa tidak berdaya dan seringkali merasa cemas dan takut. Beruntungnya saya segera menyadari keadaan ini dan berusaha untuk menerimanya. Saya kemudian menyampaikan hal ini pada suami, dan pelan-pelan saya belajar untuk bangkit. 

Pengalaman ini memberikan saya kesempatan untuk mengerti betapa pentingnya kolaborasi dalam masa pengasuhan anak. Kolaborasi ini tentu melibatkan banyak sekali pihak, tapi yang menjadi kuncinya adalah kolaborasi antara istri dan suami. Setiap ibu perlu sekali mendapatkan dukungan secara fisiologis dan psikologis dari suami, keluarga dan teman-temannya dalam menjalankan masa pengasuhannya, terlebih bagi ibu baru. Pengalaman ini menyentuh titik empati saya dengan hangat, dan saya sangat berterimakasih pada Allah untuk hal ini. Terimakasih ya Allah untuk banyak sekali hal indah yang Panjenengan ajarkan pada saya lewat kehadiran Arka.