Beberapa waktu yang lalu saya dan suami sedang bercengkrama. Entah bagaimana obrolan kami tiba-tiba sampai pada pembahasan tentang game. Kami saling berbagi cerita tentang beberapa teman kami yang sudah menikah yang kemudian saling berselisih karena game. Adakah yang mengalami hal yang serupa?
Saya melihat banyak laki-laki modern seperti terlahir sepaket dengan kecintaannya pada game. Kecintaan yang tidak mengenal batas usia dan status sosial. Mulai dari anak-anak, para remaja dan bahkan yang sudah dewasa dan berkeluarga, mereka masih mencintai game. Ada yang bilang ini dampak dari teknologi, tapi saya lebih memilih untuk menyebutnya sebagai sebuah kebutuhan.
Sama halnya dengan perempuan saya merasa bahwa laki-laki juga punya ruang dalam dirinya yang hanya akan terisi ketika ia melakukan aktivitas yang memunculkan perasaan senang, nyaman dan berdaya. Laki-laki yang memiliki kecintaan pada game ini merasa dirinya menjadi sangat "aku" ketika sedang bermain. Karenanya mereka bisa betah hingga berjam-jam lamanya.
Perempuan pun mempunyai ruang yang sama sebenarnya, hanya saja lebih berbatas. Seiring dengan adanya tanggung jawab yang dihadapinya, sebagian perempuan akan rela mengesampingkan apa yang bukan lagi menjadi prioritas utamanya. "Nanti aja deh nonton drakornya, kalau adek udah tidur." Seperti itu misalnya. Hal ini yang kemudian memunculkan pendapat bahwa perempuan lebih cepat matang kedewasaannya dibandingkan laki-laki pada usia yang sama. Oh iya, perlu saya sampaikan disini bahwa ini opini saya dalam mengamati sebagian besar fenomena di sekitar saya tanpa ada niatan untuk menganggap semua laki-laki dan perempuan berada pada fenomena ini.
Saya kemudian bertanya pada suami saya, hal apa yang paling tidak beliau sukai. Diremehkan, begitu beliau menjawabnya. Meski tidak semua laki-laki akan menjawab dengan sama saat ditanya demikian, tetapi saya merasa sebagian besar laki-laki akan sepakat dengan jawaban itu. Nah, saya mulai membuat peta benang merahnya. Ketika laki-laki tidak suka diremehkan, artinya dia akan senang ketika dianggap hebat, dibanggakan, diandalkan, diberi kesempatan dan kepercayaan lalu kemudian menjadi pemenang.
Perasaan semacam itu akan mereka temukan saat bergelut dengan game. Saya sebenarnya tidak terlalu paham ya dengan aturan dalam bermain game pada game-game yang saat ini sedang banyak diminati masyarakat. Yang saya lihat ketika nge-game mereka sedang mengatur strategi, taktik, membuat goal, membangun kerja sama dengan pemain lain, memikirkan pemilihan senjata dan mungkin banyak lagi, yang semua itu tidak mudah. Jadi ketika mereka berhasil mengalahkan lawan mungkin mereka merasa seperti berhasil mendamaikan perang dunia ke tiga.
Ada sebagian istri yang mengeluhkan suaminya yang terlalu berlebihan dalam bermain game. Merasa diabaikan karena kesibuka nge-game hingga tidak ikut terlibat dalam pengasuhan anak ataupun membereskan pekerjaan rumah. Ya wajar saja terjadi konflik jika semacam itu keadaannya. Karenanya saya dan suami kemudian mencoba membuka pendapat masing-masing tentang game. Saya katakan pada beliau, "Aku sih gapapa Jenengan nge-game, tapi diwaktu Arka tidur geh. Kalau misal ada yang harus kita kerjakan bersama, atau ada yang harus kita obrolkan ya aku minta game nya ditunda dulu."
Beliau merespon dengan tenang, sambil berkata jahil "kalau kamu cemburu atau ngomel-ngomel karena game aku malah seneng loh". Lah, kok jadi plot twist begini ya Pak.
Sebelum menutup catatan ini, saya ingin berbisik pada para perempuan yang memiliki pasangan pecinta game. Gapapa kalian marah jika nge-game nya itu sampai melalaikan tugas dan kewajibannya. Tapi jika sebagai laki-laki mereka sudah memenuhi kewajibannya, bolehlah kita beri mereka ruang untuk bermain. Bukalah ruang obrolan tentang game dengan pasangan, supaya sama-sama legowo.
Selamat malam, catatan ini ditulis disamping suami yang sedang serius nge-game.