Rabu, 25 Maret 2015

catatan malam untuk negeri



Halus hembusan angin malam menemani anganku terbang. Sejurus, hawa dingin mulai menembus lapisan jaket yang ku kenakan, lalu mulai menjalar halus diatas pori-pori kulit, menguat dan merambat menusuk tulang.
Malam masih saja selalu menyimpan  cerita,
menjadi peraduan setiap letih yang tersirat.
Begitulah tingkah si manusia,
setelah habis dayanya ia berpulang berbagi letih dalam dekapan gelap malam.
Berteman temaram kerlip taburan bintang,
ku coba mengurai cerita.., mengadukan resah jiwa..
Bintang..,
Ingin aku bertanya padamu, benarkah negriku ini pernah dijuluki negeri maritim? Jika benar, pasti luas sekali hamparan air asin di negriku, ah.., andai saja aku mampu mengarungi setiap jengkal darinya. Tapi bintang, aku kembali tak habis fikir. jika negriku kaya lautan, mengapa garamku masih berstatus garam impor? Lelucon macam apa ini, bukankah garam dihasilkan dari air laut kan…, siapa aktor ulung yang merangkai mulus lelucon ini, atau mungkin.. aku kah yang terlalu naïf tentang ketidaktahuanku ini…
Bintang..,
Kali ini aku ingin bertanya padamu tentang seberapa suburnya negriku dahulu? Hingga kata mereka, sebongkah kayu yang tertancap di tanahku akan berakar dan berbuah. Andai diijinkan, aku ingin terbang ke dimensi waktu kala itu, pasti hutanku hijau permai. Tapi kini, mengapa hutanku mulai gundul? Mengapa longsor terus menghantui sepanjang musim? Mungkinkah kesuburan tanahku telah habis masanya? Atau mungkin, mereka sempat lupa lalu khilaf menelantarkannya?
Bintang..,
Mungkin aku terlalu cerewet, bertutur tiada henti. Aku hanya letih.. mendengar kisah manis mereka yang tak mampu kulihat nyatanya. Kata mereka, negriku kaya, damai, subur, dan indah. Tapi naasnya, saat kini aku mulai beranjak dewasa tak kusaksikan negeriku sperti itu.., yang tersaji dihadapku kini, bukan Indonesia yang kaya, tapi Indonesia yang dililit hutang.., bukan lagi Indonesia yang damai, tapi Indonesia yang ramai pertikaian politik.. ingin aku bertanya pada mereka, siapa yang bertanggung jawab untuk apa yang menimpa negriku kini.., atau mungkin… aku yang terlambat dilahirkan, sehingga harus menjadi saksi kemalangan negriku yang dulu kata mereka pernah dipuja….
Bintang..,
Kadang aku berharap, sebuah keajaiban Tuhan yang kemudian menjadikanmu lancar berbicara.., entah mengapa aku begitu yakinnya,, engkau tahu semua jawaban dari tanyaku. Karena engkau kawan setia angin malam. Dan malam,, masih saja menjadi peraduan keluh kesah, dan letih mereka…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar